KONTESTASI FIKIH SYAFI’I DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DALAM PRAKTIK AWAL MASA ’IDDAH: STUDI LIVING LAW DI KABUPATEN ACEH UTARA
DOI:
https://doi.org/10.62901/j-ikhsan.v5i2.760Keywords:
’iddah; fikih Syafi’i; Kompilasi Hukum Islam; living law; Aceh UtaraAbstract
Fikih Syafi’i dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) berbeda dalam menetapkan titik awal (mabda’) masa ’iddah: fikih Syafi’i menghitungnya sejak lafaz talak diucapkan, sedangkan KHI menghitungnya sejak putusan Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah berkekuatan hukum tetap. Perbedaan ini secara empiris belum banyak diteliti di wilayah yang tradisi fikih Syafi’inya masih kuat seperti Aceh Utara. Artikel ini bertujuan mengungkap bagaimana kontestasi kedua norma tersebut dipraktikkan sebagai living law, faktor-faktor yang membuat salah satunya lebih dominan, serta implikasinya terhadap kepastian hukum dan perlindungan hak perempuan pascaperceraian. Penelitian menggunakan pendekatan hukum empiris beraliran antropologi hukum, dengan data primer dari wawancara mendalam terhadap delapan informan (lima perempuan pelaku ’iddah dan tiga laki-laki pelaku syibhul ’iddah) di Kabupaten Aceh Utara, dianalisis menggunakan lensa living law Eugen Ehrlich dan semi-autonomous social field Sally Falk Moore. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontestasi kedua norma tidak berwujud benturan terbuka, melainkan dualisme fungsional: fikih Syafi’i dipedomani secara batin sebagai penanda dimulainya ’iddah, sedangkan KHI dipatuhi sebatas syarat administratif negara. Dominasi fikih Syafi’i secara batin dibentuk oleh enam faktor yang saling berkelindan otoritas ulama, pendidikan dayah, tekanan sosial-budaya, rendahnya literasi hukum negara, kemudahan akses kelembagaan, dan kebijakan daerah. Dualisme ini menyisakan risiko ketidakpastian hukum berupa kaburnya status perkawinan, nafkah ’iddah, pencatatan nikah, dan status nasab, yang secara tidak proporsional membebani perempuan.
References
Abdullah, Abdullah, Nurhayati Nurhayati, Fadli Andi Natsif, Hasbi Siddik, dan Fathurrahman Fathurrahman. “The Impact of Theological Interpretations on Divorces within Muslim Families in Makassar City, Indonesia.” Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam 8, no. 1 (2024): 339–60.
Abubakar, Al Yasa. “Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, Sejarah dan Prospek.” Dalam Syariat di Wilayah Syariat: Pernik-Pernik Islam di Nanggroe Aceh Darussalam, disunting oleh Fairus M. Nur Ibr. Banda Aceh: Dinas Syariat Islam Provinsi NAD, 2002.
Al-Nawawi, Abu Zakaria Yahya Syaraf. Minhaj al-Talibin wa ’Umdah al-Muftin. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, 1996.
Alam, Ahmad Syah. “Syibhul ’Iddah bagi Laki-Laki dalam Perspektif Maqasid al-Syari’ah (Studi Surat Edaran Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: P-005/DJ.III/Hk.00.7/10/2021).” Tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2023.
Alfarisi, Achmad Hasan. “Masa Iddah dalam Pernikahan: Perspektif Hukum Fikih dan KHI.” Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner 2, no. 2 (2025): 1028–42.
Azwir, Azwir, Pagar Pagar, dan Muhammad Syukri Albani Nasution. “The Legality of Divorce in Aceh: A Study of Divorce Practices Out of Religious Courts.” Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam (2022): 165–80.
Ehrlich, Eugen, dan Klaus A. Ziegert. Fundamental Principles of the Sociology of Law. London: Routledge, 2017.
Falah, Nabilah. “Men Challenge: Syibhul ’Iddah Policy for Men in Feminist Legal Theory.” QANUN: Jurnal Hukum Keluarga Islam 2, no. 2 (2024): 163–74. https://doi.org/10.62870/qanun.v2i2.26507.
Farkhani, Elviandri, Khudzaifah Dimyati, Absori, dan Muh. Zuhri. “Converging Islamic and Religious Norms in Indonesia’s State Life Plurality.” Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) 12, no. 2 (2022): 421–46. https://doi.org/10.18326/ijims.v12i2.421-446.
Geertz, Clifford. Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology. New York: Basic Books, 2008.
Griffiths, John. “What Is Legal Pluralism?” The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law 18, no. 24 (1986): 1–55.
Hanapi, Agustin, Sarina Aini, Muhammad Husnul, Iskandar Usman, dan Siti Dian Natasya Solin. “The Practice of Triple Talaq and Women’s Protection in Aceh: A Maslahat Perspective.” Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam 8, no. 2 (2024): 1142–64.
Hidayat, Eko. “Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Nasional.” (t.j.) (1991): 190–200.
Hoebel, E. Adamson. The Law of Primitive Man: A Study in Comparative Legal Dynamics. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1954.
Hofifah, Hofifah, dan Saifuddin Saifuddin. “Qanun Aceh dalam Sistem Tata Hukum di Indonesia: Kedudukan, Fungsi dan Perbedaannya dengan Perda Syari’at Islam.” Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam 3 (t.t.): 113–37.
Husin, Asna. “Falling Out of Love: Divorce of Three Acehnese Ubanan Couples in the Islamic Law Perspective.” Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam 7, no. 3 (2023): 1868–96.
Indayani, Sri, dkk. “Pemahaman Perbedaan antara Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Masa Iddah.” (t.j.) 9, no. 1 (2025): 27–44.
Ipansyah, Nor, dan Anwar Hafidzi. “Reform of Islamic Family Law in Indonesia: Integrating Maqāṣid al-Sharī’ah and the Principles of Justice in the Digital Era.” Al-Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan 7, no. 2 (2025): 285–302.
Malinowski, Bronislaw. Crime and Custom in Savage Society. London: Routledge, 2018.
Meilania, Elsa, dkk. “Ruang Lingkup Hukum Islam di Provinsi Aceh: Implementasi Syariat dalam Sistem Hukum Nasional.” Jurnal Pendidikan Tambusai 9 (2025): 26044–48.
Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, dan Johnny Saldaña. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Edisi ke-3. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2014.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Moore, Sally Falk. “Law and Social Change: The Semi-Autonomous Social Field as an Appropriate Subject of Study.” Law & Society Review 7, no. 4 (1973): 719–46.
Muhazir, Muhazir. “Islam, Fatwa dan Negara: Pluralisme Hukum Perceraian di Aceh, Indonesia.” Istinbath: Jurnal Hukum 19, no. 1 (2022): 115–34.
Nasir, Muhammad, dan Yuni Roslaili. “Legal Status and Consequences of Unilateral Divorce: Comparative Studies Between Egypt, Jordan, Tunisia and Indonesia.” Malaysian Journal of Syariah and Law 12 (2024): 456.
Nurvadilah, Arlena, dkk. “Women, Law, and Maqashid Syari’ah: An Analysis of Protection in Indonesia and Malaysia.” Ahkam: Jurnal Hukum Islam 13, no. 2 (2025): 138–63.
Pomahiya, dkk. “Pembatalan Perkawinan pada Masa ’Iddah dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam.” (sumber sekunder, dikutip dari tesis asli; tautan tidak berhasil diverifikasi pada saat penulisan artikel ini).
Pospisil, Leopold J. “Anthropology of Law: A Comparative Theory.” New Haven, CT: HRAF Press, 1971.
Pramana, Deky, Abnan Pancasilawati, dan Lilik Andar Yuni. “Perbandingan Konsep Syibhul ’Iddah dalam KHI dan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Perspektif Maqāṣid Syarī’ah.” Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam 13, no. 1 (2024): 29–43.
Putri, Ramadhani Islami. “Penerapan Syibhul Iddah bagi Laki-Laki dalam Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag No: P-005/DJ.III/Hk.00.7/10/2021: Studi di KUA Kecamatan Klojen.” Tesis, UIN Maulana Malik Ibrahim, 2024.
Sholihuddin, Muh., Saiful Jazil, dan Syamsun Ni’am. “Remarriage in the ’Iddah Perspective of Maqāṣid al-Usrah: Study in Wedoro Waru, Sidoarjo, Indonesia.” Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam 8, no. 2 (2024): 726–46. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/samarah/article/download/15061/9358.
Siregar, Bismar. “Living Law dan Dinamika Sosial: Integrasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal ke dalam Hukum Nasional.” Lex Lectio Law Journal 4, no. 1 (2025): 14–28.
Yaqin, Ainul, dan Wakid Efendi. “Diferensiasi Pendapat 4 Madzhab dengan Peraturan Kompilasi Hukum Islam Pasal 115 tentang Hukum Jatuhnya Talak di Indonesia.” ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora 4, no. 2 (2026): 244–59.
Yin, Robert K.; Lincoln, Yvonna S., dan Egon G. Guba. Naturalistic Inquiry. Beverly Hills, CA: Sage Publications, 1985.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Arif Munandar Aruf Munandar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










